ASEP SAEPUDIN
09541100
2B BIOLOGI
MANUSIA DAN LINGKUNGAN
Manusia adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan dengan segala fungsi dan potensinya yang tunduk kepada aturan-aturan tuhan sedangkan lingkungan merupakan suatu m,edia dimana makhluk hidup tinggalmencari penghidupan dan memiliki karakter serta fungsi yang khas.
Manusia dan lingkungan adalah hubungan yang timbal balik dan simbiotik mutualisme karena, manusia hidup dialam lingkungan hidup yang saling membutuhkan dan alam sebagai lingkungan hidup dan alam sebagai lingkungan hidup juga membutuhkan manusia. Jadi manusia butuh alam untuk kehidupannya dan alam juga membutuhakan manusia untuk kelangsungan hidupnya.
asepamoy
Rabu, 22 Juni 2011
ASEP SAEPUDIN
09541100
2B BIOLOGI
Bagaimana bila IPTEK tanpa dilandasi niliai-nilai etis dan Religius
Kegunaan IPTEK bagi manusia sangat tergantung dan nilai, moral, norma dan hukumyang mendasarinya. Iptek tanpa nilai sangat berbahaya dan manusia tanpa iptek mencerminkan keterbelakangan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bergerak cepat, sehingga perlu di tanggapi dan dipersiapkan dalam menghadapinya sesuai kebutuhan bangunan teknologi dapat membawa bencana, sebaliknya juga telah terbukti bahwa bagi mereka yang dapat memanfaatkannya teknologi tersebut dapat menolong mereka dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya, sedangkan iptek tanpa religi, perkembangan IPTEK harus mampu menyesuaikan nilai yang di anut suatu masyarakat, misalnya kesopanan dan saling menghargai terhadap hasil kreasi manusia.
09541100
2B BIOLOGI
Bagaimana bila IPTEK tanpa dilandasi niliai-nilai etis dan Religius
Kegunaan IPTEK bagi manusia sangat tergantung dan nilai, moral, norma dan hukumyang mendasarinya. Iptek tanpa nilai sangat berbahaya dan manusia tanpa iptek mencerminkan keterbelakangan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bergerak cepat, sehingga perlu di tanggapi dan dipersiapkan dalam menghadapinya sesuai kebutuhan bangunan teknologi dapat membawa bencana, sebaliknya juga telah terbukti bahwa bagi mereka yang dapat memanfaatkannya teknologi tersebut dapat menolong mereka dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya, sedangkan iptek tanpa religi, perkembangan IPTEK harus mampu menyesuaikan nilai yang di anut suatu masyarakat, misalnya kesopanan dan saling menghargai terhadap hasil kreasi manusia.
ASEP SAEPUDIN
09541100
2B BIOLOGI
Manusia sebagai Makhluk Beradab dan Masyarakat Adab dalam Perkembangannya bisa Jatuh dalam perilaku Kebiadaban
Manusia adalah makhluk yang beradab sebab dianugrahi harkat, martabat serta potensi kemanusiaan yang tinggi dalam perkembangannya bisa jatuh dalam perilaku kebiadaban karena tidak mampu menyeimbangkam atau mengendalikan cipta, rasa, karsa yang dimilikinya, manusia trsebut telah melanggar hakikat kemanusiannya.
09541100
2B BIOLOGI
Manusia sebagai Makhluk Beradab dan Masyarakat Adab dalam Perkembangannya bisa Jatuh dalam perilaku Kebiadaban
Manusia adalah makhluk yang beradab sebab dianugrahi harkat, martabat serta potensi kemanusiaan yang tinggi dalam perkembangannya bisa jatuh dalam perilaku kebiadaban karena tidak mampu menyeimbangkam atau mengendalikan cipta, rasa, karsa yang dimilikinya, manusia trsebut telah melanggar hakikat kemanusiannya.
asep saepudin 09541100
Bagaimana seharusnya kedudukan IPTEK dalam kehidupan manusia
iptek dapat dilakukan dengan baik dengan Perkembangan teknologi dapat menghasilkan kemakmuran bagi masyarakat, sehingga dengan adanya kemajuan ilmu teknologi manusia dapat menciptakan perlengkapan yang canggih untuk berbagai kegiatan sehingga dalam kegiatan kehidupannya tersedia berbagai kemudahan.
iptek dapat dilakukan dengan baik dengan Perkembangan teknologi dapat menghasilkan kemakmuran bagi masyarakat, sehingga dengan adanya kemajuan ilmu teknologi manusia dapat menciptakan perlengkapan yang canggih untuk berbagai kegiatan sehingga dalam kegiatan kehidupannya tersedia berbagai kemudahan.
Selasa, 21 Juni 2011
asep saepudin
09541100
2B BIOLOGI
BAB II
Manusia sebagai Makhluk Individu dan Sosial
Manusia adalah mahluk yang memiliki otonomi untuk melaksanakan hak dan kewajibannya, tetapi akan baik apabila berada di tengah-tengah masyarakat. Sebagai manusia memiliki hak dalam berinteraksi dengan penciptanya, dengan alam sekitar, dan dengan manusia lainnya. Sehingga secara alamiah manusia tidaak dapat hidup sendiri, ia merupakan mahkluk sosial sehingga di kenal dengan astilah “ Homosocius” atau makhluk yang selalu ingin berkawan melalui interaksinya.
Dalam ilmu sosial individu merupakan bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak dapat dipisah lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Umpama keluarga sebagai kelompok sosial terkecil terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Ayah merupakan individu yang sudah tidak dapat dibagi lagi, demikian pula ibu. Sedangkan anak masih dapat dibagi sesab dalam suatu keluarga anak dapat lebih dari satu.
Individu berasal dari kata in dan devided. Dalam Bahasa Inggris in salah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan devided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi, atau satu kesatuan. Dalam bahasa latin individu berasal dari kata individum yang berarti yang tak terbagim, jadi merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan tak terbatas.
Setiap manusia di ciptakan Tuhan dengan ciri khas sendiri, tidak ada manusia yang sama percis, manusia akan berkembang menjadi kepribadiannya masing-masing sesuai dengan yamg mereka inginkan, memiliki karakteristik sendiri, sifat sendiri, watak sendiri serta cita-cita sendiri. Sebagai contoh Ani anak yang periang, dia disukai orang karena sifatnya yang ramah dan suka menolong, lain hal dengan susi dia anak yang nakal tak jarang dimarahi oleh tatangga karena kelakuannya yang suka menjahili orang. Itu menunjukan bahwa manusia sebagai mahkluk individu tidak hanya bermakna kesatuan jiwa dan raga, tetapi akan menjadi pribadi yang khas dengan corak kepribadiannya termasuk kemampuan kecakapannya.
Personality adalah susunan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap individu atau Ciri-ciri watak seorang individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khas.
Keberadaannya sebagai makhluk sosial, menjadikan manusia melakukan interaksi dengan manusia lain atau kelompok. Manusia dikatakan sebagai individu sosial karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia. Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orannga lain, manusia bisa menggunakan tangan, basi berkomunikasi, atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.
Manusia dapat melaksanakan peranannya sebagai mahkluk sosial jika sudah paham konsep 5M,
( Mengetahui, Mengerti, Memehami, Menghayati, Mengamalkan (actualisasi diri).
Manusia sebagai Mahkluk politik
Ciri manusia sebagai mahkluk politik, dapat kita lihat bahwa dalam kehidupan manusia selalu ditandai dengan adanya penentuan atas pilihan-pilihan dalam menjalani hidupnya. Dalam kehidupan tak jarang manusia memiliki suatu keinginan ( cita-cita ) yang sama. Untuk mewujudkan keinginan tersebut maka manusia memainkan perannya.
Manusia adalah mahkluk budaya
artinya mahkluk yang berkemampuan menciptakan kebaikan, kebenaran, keadilan dan bertanggung jawab. Sebagai makhluk yang berbudaya, manusia mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat demi kesempurnaan hidupnya.
Manusia sebagai Mahkluk Ekonomi
Manusia sebagai mahkluk sosial dan mahkluk ekonomi pada dasarnya selalu menghadapi masalah ekonomi. Inti dari masalah ekonomi yang di hadapi manusia adalah kenyataan bahwa kabutuhan kebutuhan manusia jumlahnya tidak terbatas, sedangkan alat pemuas kebutuhan manusia jumlahnya terbatas.
Manusia sebagai mahkluk psikologi
Manusia adalah mahkluk psikologi yang memiliki bawaan universal, unik, dan terus di kaji oleh para ahli humanior. Kita mengaku sebagai manusia tapi terkadang kita sering lupa bahwa kita adalah manusia. Manusia adalah insan bila dilihat dari sudut pandang psikologinya.
Bila kita menyatukan tiga asal kata tadi menjadi sebuaah definisi maka manusia bila ditinjau dari sisi psikologinya adalah mahkluk yang memiliki harmoni jiwa, cinta, benci, jinak, terkadang stress dan kadang sering lupa, Seperti yang telah di paparkan tadi, bahwa manusia sebagai mahkluk sosial menjadikan manusia melakukan interaksi dengan manusia lain atau kelompok. Saya pikir akibat ketidakserasian interaksi dengan-proses menyebabkan suatu masalah yang sangat besar, kenapa disebut masalah besar? Karena bersangkutan dengan hubungan antara manusia dan di dalam kerangka bagian-bagian kebudayaan yang normatif.
Penyebab masalah sosial di klasifikasikan menjadi 4 katagori:
1. Faktor Ekonomis: Kemiskinan, pengangguran
2. Faktor Biologis: Penyakit.
3. Faktor Psikologis: syaraf, bunuh diri.
4. Faktor kebudayaan: Perceraian, kejahatan.
Masalah yang timbul akibat terjadinya kepincangan-kepincangan di Indonesia, terjadi akibat tidak sesuainya antara norma-norma dan tindakan serta nilai yang ada dalam masyarakat. Sebab masyarakat tidak menyukai tindakan-tindakan yang menyimpang. Sedangkan menyangkut hal-hal yang bertentangan/berlawanan dengan nilai-nilai masyarakat akan tetapi di akui demikian halnya, di sebut latent sosial problem.
09541100
2B BIOLOGI
BAB II
Manusia sebagai Makhluk Individu dan Sosial
Manusia adalah mahluk yang memiliki otonomi untuk melaksanakan hak dan kewajibannya, tetapi akan baik apabila berada di tengah-tengah masyarakat. Sebagai manusia memiliki hak dalam berinteraksi dengan penciptanya, dengan alam sekitar, dan dengan manusia lainnya. Sehingga secara alamiah manusia tidaak dapat hidup sendiri, ia merupakan mahkluk sosial sehingga di kenal dengan astilah “ Homosocius” atau makhluk yang selalu ingin berkawan melalui interaksinya.
Dalam ilmu sosial individu merupakan bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak dapat dipisah lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Umpama keluarga sebagai kelompok sosial terkecil terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Ayah merupakan individu yang sudah tidak dapat dibagi lagi, demikian pula ibu. Sedangkan anak masih dapat dibagi sesab dalam suatu keluarga anak dapat lebih dari satu.
Individu berasal dari kata in dan devided. Dalam Bahasa Inggris in salah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan devided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi, atau satu kesatuan. Dalam bahasa latin individu berasal dari kata individum yang berarti yang tak terbagim, jadi merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan tak terbatas.
Setiap manusia di ciptakan Tuhan dengan ciri khas sendiri, tidak ada manusia yang sama percis, manusia akan berkembang menjadi kepribadiannya masing-masing sesuai dengan yamg mereka inginkan, memiliki karakteristik sendiri, sifat sendiri, watak sendiri serta cita-cita sendiri. Sebagai contoh Ani anak yang periang, dia disukai orang karena sifatnya yang ramah dan suka menolong, lain hal dengan susi dia anak yang nakal tak jarang dimarahi oleh tatangga karena kelakuannya yang suka menjahili orang. Itu menunjukan bahwa manusia sebagai mahkluk individu tidak hanya bermakna kesatuan jiwa dan raga, tetapi akan menjadi pribadi yang khas dengan corak kepribadiannya termasuk kemampuan kecakapannya.
Personality adalah susunan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap individu atau Ciri-ciri watak seorang individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khas.
Keberadaannya sebagai makhluk sosial, menjadikan manusia melakukan interaksi dengan manusia lain atau kelompok. Manusia dikatakan sebagai individu sosial karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia. Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orannga lain, manusia bisa menggunakan tangan, basi berkomunikasi, atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.
Manusia dapat melaksanakan peranannya sebagai mahkluk sosial jika sudah paham konsep 5M,
( Mengetahui, Mengerti, Memehami, Menghayati, Mengamalkan (actualisasi diri).
Manusia sebagai Mahkluk politik
Ciri manusia sebagai mahkluk politik, dapat kita lihat bahwa dalam kehidupan manusia selalu ditandai dengan adanya penentuan atas pilihan-pilihan dalam menjalani hidupnya. Dalam kehidupan tak jarang manusia memiliki suatu keinginan ( cita-cita ) yang sama. Untuk mewujudkan keinginan tersebut maka manusia memainkan perannya.
Manusia adalah mahkluk budaya
artinya mahkluk yang berkemampuan menciptakan kebaikan, kebenaran, keadilan dan bertanggung jawab. Sebagai makhluk yang berbudaya, manusia mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat demi kesempurnaan hidupnya.
Manusia sebagai Mahkluk Ekonomi
Manusia sebagai mahkluk sosial dan mahkluk ekonomi pada dasarnya selalu menghadapi masalah ekonomi. Inti dari masalah ekonomi yang di hadapi manusia adalah kenyataan bahwa kabutuhan kebutuhan manusia jumlahnya tidak terbatas, sedangkan alat pemuas kebutuhan manusia jumlahnya terbatas.
Manusia sebagai mahkluk psikologi
Manusia adalah mahkluk psikologi yang memiliki bawaan universal, unik, dan terus di kaji oleh para ahli humanior. Kita mengaku sebagai manusia tapi terkadang kita sering lupa bahwa kita adalah manusia. Manusia adalah insan bila dilihat dari sudut pandang psikologinya.
Bila kita menyatukan tiga asal kata tadi menjadi sebuaah definisi maka manusia bila ditinjau dari sisi psikologinya adalah mahkluk yang memiliki harmoni jiwa, cinta, benci, jinak, terkadang stress dan kadang sering lupa, Seperti yang telah di paparkan tadi, bahwa manusia sebagai mahkluk sosial menjadikan manusia melakukan interaksi dengan manusia lain atau kelompok. Saya pikir akibat ketidakserasian interaksi dengan-proses menyebabkan suatu masalah yang sangat besar, kenapa disebut masalah besar? Karena bersangkutan dengan hubungan antara manusia dan di dalam kerangka bagian-bagian kebudayaan yang normatif.
Penyebab masalah sosial di klasifikasikan menjadi 4 katagori:
1. Faktor Ekonomis: Kemiskinan, pengangguran
2. Faktor Biologis: Penyakit.
3. Faktor Psikologis: syaraf, bunuh diri.
4. Faktor kebudayaan: Perceraian, kejahatan.
Masalah yang timbul akibat terjadinya kepincangan-kepincangan di Indonesia, terjadi akibat tidak sesuainya antara norma-norma dan tindakan serta nilai yang ada dalam masyarakat. Sebab masyarakat tidak menyukai tindakan-tindakan yang menyimpang. Sedangkan menyangkut hal-hal yang bertentangan/berlawanan dengan nilai-nilai masyarakat akan tetapi di akui demikian halnya, di sebut latent sosial problem.
TUGAS ISBD PAK ANA
Nama : Asep saepudin
NIM : 09541100
Kelas: Biologi 2 B
TUGAS ISBD
1. Kenapa manusia tidak pernah puas?? Jelaskan!
Jawab: Karena manusia di berikan harkat, martabat, yang tinggi serta akal pikiran untuk mengembangkan potensi kemanusiaannya.
Contoh seseorang yang memiliki jabatan akan berusaha supaya jabatannya lebih tinggi lagi..
2. Jelaskan kedudukan IPTEK dengan manusia??
Jawab: Adanya IPTEK akan mengembangkan manusia dari ketidaktahuan menuju kea rah yang lebih maju. Oleh karena itu manusia sangat membutuhkan IPTEK. Namun jika IPTEK digunakan pada hal yang negatif justru akan menyenankan manusia itu tidak beradab.
Contoh: Dengan adanya HP manusia akan lebih mufah berkomunikasi, namun jika HP digunakan untuk hal yang tidak baik maka akan menjerumuskan orang tersebut pada hal yang negative pula.
3. Kenapa manusia dapat terjebak dalam kebiadaban??
Jawab: Karena manusia tidak dapat menyeimbangkan cipta, rasa, dan karsanya.
Contoh: Kasus kriminalitas, korupsi, dll.
4. Jelaskan kebudayaan merupakan hasil kreatifitas manusia??
Jawab: Peradaban merupakan tingkatan kebudayaan masyarakat pada tingkatan tertentu,
sebagai bukti, adanya mobil yang canggih, robot, HP, dan Bangunan – bangunan megah.
5. Sebutkan 5 Masalah besar di dunia??
Jawab:
1. Dehumanizations.
2. Hedonis
3. Kelaparan
4. Sakit ( Jasmani dan rohani )
5. Perang
NIM : 09541100
Kelas: Biologi 2 B
TUGAS ISBD
1. Kenapa manusia tidak pernah puas?? Jelaskan!
Jawab: Karena manusia di berikan harkat, martabat, yang tinggi serta akal pikiran untuk mengembangkan potensi kemanusiaannya.
Contoh seseorang yang memiliki jabatan akan berusaha supaya jabatannya lebih tinggi lagi..
2. Jelaskan kedudukan IPTEK dengan manusia??
Jawab: Adanya IPTEK akan mengembangkan manusia dari ketidaktahuan menuju kea rah yang lebih maju. Oleh karena itu manusia sangat membutuhkan IPTEK. Namun jika IPTEK digunakan pada hal yang negatif justru akan menyenankan manusia itu tidak beradab.
Contoh: Dengan adanya HP manusia akan lebih mufah berkomunikasi, namun jika HP digunakan untuk hal yang tidak baik maka akan menjerumuskan orang tersebut pada hal yang negative pula.
3. Kenapa manusia dapat terjebak dalam kebiadaban??
Jawab: Karena manusia tidak dapat menyeimbangkan cipta, rasa, dan karsanya.
Contoh: Kasus kriminalitas, korupsi, dll.
4. Jelaskan kebudayaan merupakan hasil kreatifitas manusia??
Jawab: Peradaban merupakan tingkatan kebudayaan masyarakat pada tingkatan tertentu,
sebagai bukti, adanya mobil yang canggih, robot, HP, dan Bangunan – bangunan megah.
5. Sebutkan 5 Masalah besar di dunia??
Jawab:
1. Dehumanizations.
2. Hedonis
3. Kelaparan
4. Sakit ( Jasmani dan rohani )
5. Perang
Selasa, 14 Juni 2011
ASEP SAEPUDIN
09541100
LATENT SOCIAL PROBLEM
Latent social problem menurut Soerjono soekanto adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat . latent social problem bertentangan/berlawanan dengan nilai-nilai masyarakat. Masalah social bersangkutan dengan hubungan antara manusia dan didalam kerangka bagian- bagian kebudayaan yang normatif. Masalah nilai- nilai social dan moral merupakan persoalan karena menyangkut tata kelakuan yang immoral, berlawanan dan bersifat merusak. Oleh karena itu manusia tidak mungkin ditelaah tanpa mempertimbangkan ukuran-ukuran masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dari apa yang dianggap buruk. terdapat beberapa masalah social yaitu faktor ekonomis, faktor biologis, faktor psikologis, dan faktor kebudayaan.
Pada dasarnya masalah sosial menyangkut nilai-nilai sosial dan moral. Dalam masalah sosial ekonomi banyaknya kemiskinan, dan pengangguran, untuk mengurangi masalah ekonomi yaitu dengan cara berkreasi, kreatif untuk membuka usaha sendiri dan yang lebih baik membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain agar dapat membantu para pengangguran dan memiliki suatu keinginan karena apabila tidak ada keinginan dan kemampuan akan mengakibatkan kerusakan serta masalah tidak akan dapat terselesaikan.
Pada faktor psikologis masalah sosial menyebabkan emosional seseorang kurang terkendalikan yang mengakibatkan system syarafnya terganggu yang dapat menjadikan seseorang hilang kepercayaan dan apabila keimananya kurang seseorang tersebut bunuh diri. Maka dari itu kita sebagai orang muslim harus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita terhadap tuhan yang maha esa.
contohnya Premanisme, perjudian dan minuman keras yang muncul karena rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, kemiskinan dan kurangnya penegakan hukum.. Dari pengamatan penulis rendahnya tingkat pendidikan ini dimulai dari tingkat pendidikan orang tua sehingga menyebabkan :
1. Kesadaran akan pendidikan anak kurang
2. Tidak berfungsinya pendidikan keluarga
Faktor ekonomi (kemiskinan) karena kesulitan pekerjaan atau penghasilan rendah yang dialami masyarakat tertentu akan menyebabkan :
1. Kemampuan menyekolahkan anak berkurang
2. Pencarian jalan pintas untuk mencapai kesejahteraan memunculkan premanisme dan perjudian.
3. Pengangguran mendekatkan mereka pada minuman keras.
Problem di atas bertambah luas dan rumit juga diakibatkan penegakan hukum yang sangat lemah oleh aparat keamanan.
Melihat keadaan seperti itu selain disebabkan oleh faktor ekonomi dan penegakan hukum, problem sosial yang terjadi di beberapa daerah, desa atau kampung disebabkan oleh faktor pendidikan. Jika ditengok ke belakang bahwa pendidikan kita mempunyai pilar yang disebut tri pusat pendidikan, maka terlihat tiga pilar pendidikan kita berjalan tidak optimal. Ketidakoptimalan ini terjadi karena pendidikan formal, pendidikan keluarga dan pendidikan masyarakat berjalan tidak terpadu, bahkan terjadi dikotomi, kadang terjadi saling menyalahkan antara keluarga dan sekolah atau masyarakat tentang penyebab suatu permasalahan yang diakibatkan oleh pendidikan, seperti tanggungjawab pendidikan moral atau agama. Untuk menyelesaikan problem sosial di beberapa daerah, perlu mengoptimalkan tri pusat pendidikan tersebut dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1 Pemerataan Pendidikan Formal
Walaupun pendidikan formal untuk masyarakat kita dapat dikatakan merata, tapi perlu ditinjau kembali sejauh mana bisa memberikan kontribusi untuk menyelesaikan problem sosial di atas. Khusus untuk desa atau kampung yang mempunyai problem sosial yang tinggi, perlu dilakukan terobosan oleh pemerintah dengan membebaskan pembayaran BP3 pada siswa-siswa yang berasal dari tempat tersebut. Walaupun harus diakui BP3 memberikan kontribusi yang besar pada pelaksanaan pendidikan di sekolah dan peningkatan pendidikan, tetapi pada akhir-akhir ini banyak terjadi ketidakadilan dalam kontribusi BP3 ini, karena terjadi kesewenang-wenangan dalam hal jumlah iuran BP3. Hal ini terlihat banyak sekolah negeri iuaran BP3nya lebih besar dibandingkan bebeberapa sekolah swasta, padahal sekolah negeri sudah menerima subsidi dari pemerintah.
Pemerintah perlu memberi subsidi yang nyata pada daerah-daerah yang banyak mengalami problem sosial, sehingga peningkatan pendidikan pada anak-anak akan merubah sikap mental mereka di kemudian hari. Dalam konteks otonomi daerah, Pemerintah Daerah dapat menggunakan kebijakan daerah untuk memperhatikan daerahnya dan memberikan subsidi yang nyata bagi daerah atau desa/kampung yang mengalami masalah sosial. Pemerintah Daerah Jemberana misalnya, mengambil langkah yang spektakuler dengan membebaskan siswa di kabupaten tersebut dari pembayaran SPP/BP3.
2 Muatan Nilai pada Pendidikan Formal
Muatan nilai pada pendidikan formal sudah sangat sering didengar, bahkan sering menjadi polemik apakah menjadi mata pelajatran tersendiri atau diintegrasikan pada mata pelajaran yang lainnya. Dengan konsep Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sebenarnya sangat memungkinkan memasukkan muatan nilai pada mata pelajaran yang sudah ada.
Pada dasarnya pendidikan bertugas mempersiapkan anak untuk menghadapi hari esok. Dengan demikian pendidikan seyogyanya sesuai dengan kebutuhan anak kelak manakala mereka terjun ke masyarakat. Pendidikan berkewajiban menanamkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan individu dalam mengarungi kehidupannya di masyarakat. Sehingga pendidikan bidang-bidang studi turut pula bertanggung jawab dalam mengembangkan kemampuan itu, (Harry Firman, 2004:3)
Sering terjadi dikotomi atau saling menyalahkan tentang pendidikan nilai, apakah diberikan di sekolah atau di keluarga/masyarakat. Pihak sekolah menganggap pendidikan nilai ada di keluarga, karena sebagian besar waktu anak didik berada di rumah (bukan di sekolah), sedangkan pihak orang tua atau masyarakat memandang karena tugas sekolah juga mendidik aspek afektif dan psikomotorik ada pelajaran moral dan agama, maka kesalahan sering dilimpahkan ke sekolah. Sebenarya pendidikan nilai adalah tanggungjawab dari semuanya sebagai fungsi tri pusat pendidikan, sehingga tidak perlu terjadi dikotomi, semua pihak harus bersatu padu untuk memberikan pendidikan nilai pada anak atau siswa.
Pendidikan agama menjadi tumpuan yang terbesar untuk membentuk watak siswa sehingga memiliki kompetensi moral yang cukup untuk membentuk kepribadian yang baik, dengan demikian kegagalan dalam pendidikan keluarga (jika terjadi) dapat dikompensasi dengan pemberian muatan nilai pada pendidikan formal.
3. Memperbanyak peran pendidikan luar sekolah.
Pendidikan Luar Sekolah (PLS) sebenarnya pendidikan yang strategis untuk menyelesaikan problem sosial, tetapi Pemerintah justru tidak memberikan porsi yang cukup untuk berperan pada akhir-akhir ini.
Di era otonomi daerah, Pemerintah perlu lebih menggerakkan pendidikan non formal tersebut untuk dapat membantu menyelesaikan problem sosial tersebut. Pemda sebenarnya lebih mengetahui kondisi daerahnya dibanding pemerintah pusat sehingga memiliki kebijakan yang lebih tepat bagaimana menyelesaikan problem sosial yang dialami beberapa daerah.
Pendidikan non formal yang hanya bertumpu pada isu-isu yang sudah usang seperti kejar paket A, B atau penuntasan buta aksara perlu dikurangi tetapi perlu menambah atau meningkatkan kegiatan pada isu ; (1) peningkatan kualitas program pendidikan perempuan dan pendidikan orang tua, (2) perluasan pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan berkelanjutan melalui program pembinaan kursus, kelompok belajar usaha, magang, dan beasiswa pelatihan.
Program Pendidikan Perempuan, yakni program untuk memberikan serta meningkatkan pengetahuan, keterampilan serta sikap mental perempuan, sehingga mereka mampu melaksanakan fungsi keluarga dalam rangka terciptanya keluarga yang sehat dan sejahtera. Kegiatan-kegiatan dalam program pendidikan perempuan adalah: 1) Pendidikan Keterampilan Usaha Perempuan (PKUP), guna memberikan bekal kemampuan berusaha sehingga mereka memiliki sumber penghasilan yang tetap, 2) Pendidikan Orangtua, guna memberikan bekal kemampuan dalam melaksanakan fungsi keluarga; serta 3) Pemberdayaan Perempuan, guna memberdayakan perempuan sebagai mitra sejajar pria (gender).
Kualitas pendidikan perempuan dan orang tua pada daerah-daerah dengan problem sosial tinggi, akan memberikan dampak yang positif terhadap pendidikan keluarga. Kita mengetahui perempuan dapat menopang ekonomi keluarga, dan lebih banyak bertemu anggota keluarga dalam konteks pendidikan keluarga sehingga ini dapat membawa iklim positif bagi penyelesaian problem sosial
Program Pendidikan Berkelanjutan, terdiri dari: 1) program yang berorientasi pada pemberian bekal pengembangan diri dan profesionalisme melalui kursus yang sesuai dengan kebutuhan warga, seperti: jasa, bahasa, pertanian, kerumahtanggaan, kesehatan, teknik dan perambahan, olahraga kesenian, kerajinan dan industri, serta keterampilan khusus; 2) program yang berorientasi pada pemberian bekal untuk bekerja mencari nafkah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidup melalui program Kejar Usaha, Magang, Beasiswa/Kursus; 3) program yang berorientasi pada bekal untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, yang dilaksanakan melalui program Paket C Setara SMU yang diintegrasikan dengan pendidikan keterampilan sehingga adanya peningkatan pengetahuan disertai dengan peningkatan kemampuan bermatapencaharian.
Peningkatan kualitas pendidikan berkelanjutan pada daerah-daerah bermasalah.akan memberikan dampak ekonomi yang bagus, sehingga lambat laun kemiskinan pada daerah bermasalah dapat dikurangi. Pemberian keterampilan akan memberikan ruang yang kondusif bagi penambahan penghasilan keluarga dan dengan adanya kegiatan usaha maka prilaku-prilaku buruk seperti perjudian, minuman keras dapat dikurangi.
09541100
LATENT SOCIAL PROBLEM
Latent social problem menurut Soerjono soekanto adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat . latent social problem bertentangan/berlawanan dengan nilai-nilai masyarakat. Masalah social bersangkutan dengan hubungan antara manusia dan didalam kerangka bagian- bagian kebudayaan yang normatif. Masalah nilai- nilai social dan moral merupakan persoalan karena menyangkut tata kelakuan yang immoral, berlawanan dan bersifat merusak. Oleh karena itu manusia tidak mungkin ditelaah tanpa mempertimbangkan ukuran-ukuran masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dari apa yang dianggap buruk. terdapat beberapa masalah social yaitu faktor ekonomis, faktor biologis, faktor psikologis, dan faktor kebudayaan.
Pada dasarnya masalah sosial menyangkut nilai-nilai sosial dan moral. Dalam masalah sosial ekonomi banyaknya kemiskinan, dan pengangguran, untuk mengurangi masalah ekonomi yaitu dengan cara berkreasi, kreatif untuk membuka usaha sendiri dan yang lebih baik membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain agar dapat membantu para pengangguran dan memiliki suatu keinginan karena apabila tidak ada keinginan dan kemampuan akan mengakibatkan kerusakan serta masalah tidak akan dapat terselesaikan.
Pada faktor psikologis masalah sosial menyebabkan emosional seseorang kurang terkendalikan yang mengakibatkan system syarafnya terganggu yang dapat menjadikan seseorang hilang kepercayaan dan apabila keimananya kurang seseorang tersebut bunuh diri. Maka dari itu kita sebagai orang muslim harus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita terhadap tuhan yang maha esa.
contohnya Premanisme, perjudian dan minuman keras yang muncul karena rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, kemiskinan dan kurangnya penegakan hukum.. Dari pengamatan penulis rendahnya tingkat pendidikan ini dimulai dari tingkat pendidikan orang tua sehingga menyebabkan :
1. Kesadaran akan pendidikan anak kurang
2. Tidak berfungsinya pendidikan keluarga
Faktor ekonomi (kemiskinan) karena kesulitan pekerjaan atau penghasilan rendah yang dialami masyarakat tertentu akan menyebabkan :
1. Kemampuan menyekolahkan anak berkurang
2. Pencarian jalan pintas untuk mencapai kesejahteraan memunculkan premanisme dan perjudian.
3. Pengangguran mendekatkan mereka pada minuman keras.
Problem di atas bertambah luas dan rumit juga diakibatkan penegakan hukum yang sangat lemah oleh aparat keamanan.
Melihat keadaan seperti itu selain disebabkan oleh faktor ekonomi dan penegakan hukum, problem sosial yang terjadi di beberapa daerah, desa atau kampung disebabkan oleh faktor pendidikan. Jika ditengok ke belakang bahwa pendidikan kita mempunyai pilar yang disebut tri pusat pendidikan, maka terlihat tiga pilar pendidikan kita berjalan tidak optimal. Ketidakoptimalan ini terjadi karena pendidikan formal, pendidikan keluarga dan pendidikan masyarakat berjalan tidak terpadu, bahkan terjadi dikotomi, kadang terjadi saling menyalahkan antara keluarga dan sekolah atau masyarakat tentang penyebab suatu permasalahan yang diakibatkan oleh pendidikan, seperti tanggungjawab pendidikan moral atau agama. Untuk menyelesaikan problem sosial di beberapa daerah, perlu mengoptimalkan tri pusat pendidikan tersebut dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1 Pemerataan Pendidikan Formal
Walaupun pendidikan formal untuk masyarakat kita dapat dikatakan merata, tapi perlu ditinjau kembali sejauh mana bisa memberikan kontribusi untuk menyelesaikan problem sosial di atas. Khusus untuk desa atau kampung yang mempunyai problem sosial yang tinggi, perlu dilakukan terobosan oleh pemerintah dengan membebaskan pembayaran BP3 pada siswa-siswa yang berasal dari tempat tersebut. Walaupun harus diakui BP3 memberikan kontribusi yang besar pada pelaksanaan pendidikan di sekolah dan peningkatan pendidikan, tetapi pada akhir-akhir ini banyak terjadi ketidakadilan dalam kontribusi BP3 ini, karena terjadi kesewenang-wenangan dalam hal jumlah iuran BP3. Hal ini terlihat banyak sekolah negeri iuaran BP3nya lebih besar dibandingkan bebeberapa sekolah swasta, padahal sekolah negeri sudah menerima subsidi dari pemerintah.
Pemerintah perlu memberi subsidi yang nyata pada daerah-daerah yang banyak mengalami problem sosial, sehingga peningkatan pendidikan pada anak-anak akan merubah sikap mental mereka di kemudian hari. Dalam konteks otonomi daerah, Pemerintah Daerah dapat menggunakan kebijakan daerah untuk memperhatikan daerahnya dan memberikan subsidi yang nyata bagi daerah atau desa/kampung yang mengalami masalah sosial. Pemerintah Daerah Jemberana misalnya, mengambil langkah yang spektakuler dengan membebaskan siswa di kabupaten tersebut dari pembayaran SPP/BP3.
2 Muatan Nilai pada Pendidikan Formal
Muatan nilai pada pendidikan formal sudah sangat sering didengar, bahkan sering menjadi polemik apakah menjadi mata pelajatran tersendiri atau diintegrasikan pada mata pelajaran yang lainnya. Dengan konsep Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sebenarnya sangat memungkinkan memasukkan muatan nilai pada mata pelajaran yang sudah ada.
Pada dasarnya pendidikan bertugas mempersiapkan anak untuk menghadapi hari esok. Dengan demikian pendidikan seyogyanya sesuai dengan kebutuhan anak kelak manakala mereka terjun ke masyarakat. Pendidikan berkewajiban menanamkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan individu dalam mengarungi kehidupannya di masyarakat. Sehingga pendidikan bidang-bidang studi turut pula bertanggung jawab dalam mengembangkan kemampuan itu, (Harry Firman, 2004:3)
Sering terjadi dikotomi atau saling menyalahkan tentang pendidikan nilai, apakah diberikan di sekolah atau di keluarga/masyarakat. Pihak sekolah menganggap pendidikan nilai ada di keluarga, karena sebagian besar waktu anak didik berada di rumah (bukan di sekolah), sedangkan pihak orang tua atau masyarakat memandang karena tugas sekolah juga mendidik aspek afektif dan psikomotorik ada pelajaran moral dan agama, maka kesalahan sering dilimpahkan ke sekolah. Sebenarya pendidikan nilai adalah tanggungjawab dari semuanya sebagai fungsi tri pusat pendidikan, sehingga tidak perlu terjadi dikotomi, semua pihak harus bersatu padu untuk memberikan pendidikan nilai pada anak atau siswa.
Pendidikan agama menjadi tumpuan yang terbesar untuk membentuk watak siswa sehingga memiliki kompetensi moral yang cukup untuk membentuk kepribadian yang baik, dengan demikian kegagalan dalam pendidikan keluarga (jika terjadi) dapat dikompensasi dengan pemberian muatan nilai pada pendidikan formal.
3. Memperbanyak peran pendidikan luar sekolah.
Pendidikan Luar Sekolah (PLS) sebenarnya pendidikan yang strategis untuk menyelesaikan problem sosial, tetapi Pemerintah justru tidak memberikan porsi yang cukup untuk berperan pada akhir-akhir ini.
Di era otonomi daerah, Pemerintah perlu lebih menggerakkan pendidikan non formal tersebut untuk dapat membantu menyelesaikan problem sosial tersebut. Pemda sebenarnya lebih mengetahui kondisi daerahnya dibanding pemerintah pusat sehingga memiliki kebijakan yang lebih tepat bagaimana menyelesaikan problem sosial yang dialami beberapa daerah.
Pendidikan non formal yang hanya bertumpu pada isu-isu yang sudah usang seperti kejar paket A, B atau penuntasan buta aksara perlu dikurangi tetapi perlu menambah atau meningkatkan kegiatan pada isu ; (1) peningkatan kualitas program pendidikan perempuan dan pendidikan orang tua, (2) perluasan pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan berkelanjutan melalui program pembinaan kursus, kelompok belajar usaha, magang, dan beasiswa pelatihan.
Program Pendidikan Perempuan, yakni program untuk memberikan serta meningkatkan pengetahuan, keterampilan serta sikap mental perempuan, sehingga mereka mampu melaksanakan fungsi keluarga dalam rangka terciptanya keluarga yang sehat dan sejahtera. Kegiatan-kegiatan dalam program pendidikan perempuan adalah: 1) Pendidikan Keterampilan Usaha Perempuan (PKUP), guna memberikan bekal kemampuan berusaha sehingga mereka memiliki sumber penghasilan yang tetap, 2) Pendidikan Orangtua, guna memberikan bekal kemampuan dalam melaksanakan fungsi keluarga; serta 3) Pemberdayaan Perempuan, guna memberdayakan perempuan sebagai mitra sejajar pria (gender).
Kualitas pendidikan perempuan dan orang tua pada daerah-daerah dengan problem sosial tinggi, akan memberikan dampak yang positif terhadap pendidikan keluarga. Kita mengetahui perempuan dapat menopang ekonomi keluarga, dan lebih banyak bertemu anggota keluarga dalam konteks pendidikan keluarga sehingga ini dapat membawa iklim positif bagi penyelesaian problem sosial
Program Pendidikan Berkelanjutan, terdiri dari: 1) program yang berorientasi pada pemberian bekal pengembangan diri dan profesionalisme melalui kursus yang sesuai dengan kebutuhan warga, seperti: jasa, bahasa, pertanian, kerumahtanggaan, kesehatan, teknik dan perambahan, olahraga kesenian, kerajinan dan industri, serta keterampilan khusus; 2) program yang berorientasi pada pemberian bekal untuk bekerja mencari nafkah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidup melalui program Kejar Usaha, Magang, Beasiswa/Kursus; 3) program yang berorientasi pada bekal untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, yang dilaksanakan melalui program Paket C Setara SMU yang diintegrasikan dengan pendidikan keterampilan sehingga adanya peningkatan pengetahuan disertai dengan peningkatan kemampuan bermatapencaharian.
Peningkatan kualitas pendidikan berkelanjutan pada daerah-daerah bermasalah.akan memberikan dampak ekonomi yang bagus, sehingga lambat laun kemiskinan pada daerah bermasalah dapat dikurangi. Pemberian keterampilan akan memberikan ruang yang kondusif bagi penambahan penghasilan keluarga dan dengan adanya kegiatan usaha maka prilaku-prilaku buruk seperti perjudian, minuman keras dapat dikurangi.
Langganan:
Postingan (Atom)